"Siapa kamu?"
Wajahnya terlindung di sebalik rambut yang panjang kehitaman. Sayap-nya merengkuh menutupi badan yang separuh telanjang.
"Aku, bidadari langit,"
Takut? iya. Takjub, lebih dari iya.
"Apa kamu buat di sini?"
"Hanya menumpang duduk. Sedang menjahit sayap yang
kepatahan,"
Aku melihat jauh. Benar, sayap-nya patah. Luka. Dan si
bidadari sedang menahan sakit menjahit semula sayap yang kepatahan.
"Kenapa sayap-mu patah?"
"Kerna aku menanggung doa kalian yang terlalu
berat,"
Aku senyum. "Tuhan pasti tidak pernah menyuruh kamu
menanggung doa aku. Malah, doa aku mungkin tidak pernah terangkat ke langit
sekalipun,"
Bidadari itu membalas senyum lantas berkata, "Tidurlah.
Hari ini belum sampai hari kamu. Sampai masa, aku datang semula,"
* Aku juga sedang patah*
No comments:
Post a Comment